Minggu, 10 Mei 2015

Psikolog amatiran

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 10.35 2 komentar
Sebut saja seorang psikolog amatiran. Tanpa gelar. Tanpa memiliki ilmu yang memadai seputar ilmu psikologi itu. Tetapi telah cukup mengetahui sedikitnya istilah, perilaku hidup manusia, kepribadian serta sekarang sedang tahap memahami karakter orang lain. Hanya satu yang belum kesampaian untuk dilaksanakan, yaitu menjadi ahli membaca pikiran orang lain. 

Kemarin malam, siang tadi dan malam ini, sudah ada tiga sahabat saya yang sudah mau membagikan cerita kegundahan hatinya kepada saya. Saya yang pada dasarnya kepo, suka penasaran, tapi lebih banyak atas dasar peduli dengan masalah orang lain dengan sukarela bahkan senang hati mendengarkan tiap-tiap kata yang mereka utarakan. Berusaha menempatkan perasaan untuk ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Bahasa gaulnya saya turut berempati. Memaksimalkan keadaan telinga dan mata untuk mendengarkan serta membaca tiap-tiap kata yang mereka utarakan. Menjadi pendengar yang baik adalah salah satu kelebihan saya. Bukan pamer. Tapi ini hasil dari test yang pernah saya ikuti. Dan saya menyetujui.

Well, dari ketiga cerita sahabat wanita saya tersebut atau kalo lebih kerennya dari ketiga klien saya tersebut, saya menjadi belajar akan banyak hal. Bahwa ternyata tiap makhluk hidup yang berjenis manusia memang tidak akan pernah lepas dengan urusan masalah, sekalipun itu soal urusan perasaan/hati. Bahwa setiap manusia yang hidup pasti mempunyai masalahnya masing-masing.

Masalah bukan berarti semua masalah. Masalah datang karena ia mempunyai alasan. Alasan agar manusia banyak belajar untuk lebih bijaksana memahami hidup. Alasan agar manusia banyak belajar dewasa untuk menyelesaikannya. Sebab hidup ngga melulu soal masalah bahagia. Sebab hidup ngga melulu soal masalah pahit. Masalah pahit bisa menjadi bahagia dengan penyelesaian yang dewasa dan baik. Masalah bahagia belum tentu akan menjadi masalah pahit, tergantung bagaimana si penikmat masalah bahagia itu menjaganya agar tetap terasa bahagia.

Jelasnya...
Jadikan masalah sebagai salah satu cara agar diri kita bisa lebih mengasah kualitas diri sehingga bisa mencapai pada level manusia yang lebih baik. Cobalah kita lebih positif memandang suatu masalah. Jangan jadikan itu sebagai aral melintang yang menghalau diri untuk maju memperbaiki. Karena hujan pasti ada redanya. sakit pasti ada sembuhnya. Sebagaimana yang telah di janjikan oleh Allah bahwa akan ada kemudahan setelah kesulitan. Jadi setiap masalah pasti akan mempunyai jalan bahagianya.


Kembali pada pembahasan awal.
Dari sini, satu lagi yang menjadikan alasan saya mengapa sejak dulu begitu terobsesi menjadi seorang psikolog sungguhan suatu hari nanti (entah kapan, pokoknya suatu hari nanti). Adalah dapat berbagai rasa, berbagi solusi, berbagi pemahaman tentang banyak hal kepada tiap manusia yang hidup. Karena dari sekian banyak sahabat yang menjadikan saya tempat "pembuangan" ceritanya, disitu saya merasa bahagia. Bahagia karena bisa menjadi seseorang yang dipercaya, bahagia karena bisa membantu mereka dan bahagia karena bisa membuat mereka yang bercerita menjadi tersenyum lega dan optimis menghalau masalah. Bahwa sebenarnya dan sejujurnya saya-lah yang hendaknya mengucapkan terimakasih pada mereka yang telah bercerita, karena mereka yang telah berkenan membiarkan saya mengetahui pengalamannya, turut membantu membiarkan saya berimajinasi sebagai seorang psikolog ketika sedang mencoba menyumbang saran bagi mereka. Serta turut membantu membiarkan saya merasakan mimpi itu terasa sangat dekat. Bahagia.

Tulisan ini hanya sekumpulan banyak patahan kata tentang pengalaman kisah yang terjadi pada seorang saya. Selalu berharap semoga apa yang saya tulis ini terselip inspirasi dan manfaat yang bisa diterima oleh siapa saja yang kiranya berkenan membaca tulisan dari seorang psikolog amatiran.


Hari kesepuluh bulan kelima tahun limabelas.
Ach, yang sedang bahagia

Rabu, 15 April 2015

Jangan galau

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 09.22 0 komentar
Malam ini saya ingin menulis sesuatu lagi. Bukan tentang cerita saya hari ini atau kemarin, tapi hanya sekedar ingin berbagi tulisan imaginasi dari pikiran seorang saya ini. Tema yang akan saya tulis dilaman blog yang telah sangat usang ini adalah tentang kondisi galau. Kondisi ini dulunya sangat menjadi trend di kalangan remaja-remaji labil. Biasanya kalangan remaja-remaji yang mengidap kondisi ini banyak mengungkapkan spekulasi atau alasan yang bisa berbeda-beda dari tiap-tiap remaja-remaji tersebut.

Secara definitif galau adalah kondisi dilematis dimana seseorang tidak bisa mendefinisikan perasaannya sendiri. Galau juga bisa berarti cemas, khawatir gelisah dan resah terhadap sesuatu. Entah itu karena masalah pekerjaan, memikirkan hubungan dengan orang lain, hubungan dengan sahabat, bahkan masalah hati sekalipun. Mungkin kalimat barusan yang saya tulis merupakan penyebab terbanyak yang dialami oleh kalangan remaja-remaji diluaran sana. Saya hanya menebak saja, sih.

Saya pribadi pun pernah mengalami fase galau. Galau karena seseorang, galau karena sahabat, galau karena kuliah, galau karena deadline tanggungjawab, bahkan galau karena ibadah yang belum kunjung sempurna. Namun, dilain sisi saya merasa galau yang terkadang saya alami masih berada dalam ambang batas kewajaran. Karena saya masih bisa menjaga aktivitas saya sesuai takarannya, membagi waktu dengan baik agar semuanya komponen dalam hidup terkendali dengan baik pula.

Pada dasarnya, kondisi galau merupakan hal wajar karena setiap manusia pasti akan mengalami keadaan dimana perasaan diri akan lebih mendominasi. Namun juga harus dijaga agar galau yang ada tidak berlebihan serta berkelanjutan terus-menurus seperti penyakit kronis yang tidak kunjung sembuh. Jangan sampai parah dengan mengumbarnya. Jangan. 
Bagi pembaca tulisan tentang galau ini, coba ikuti beberapa treatment sederhana ini :

Treatment pertama. Mencobalah untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan, mencari moodbooster yang sekiranya akan dapat meningkatkan mood kembali menjadi baik dan nyaman.

Treatment kedua. Jikalau memang harus kudu banget bercerita, maka utarakanlah perasaan itu. Ungkapkan saja segala unek-unek seputar kegalauan yang melanda hati serta pikiran. Namun satu hal yang harus diingat, pandai-pandailah memilih seseorang yang akan dijadikan media sebagai teman bercerita, pilihlah seseorang yang dapat dipercaya dan tentunya juga dapat mencairkan kegalauan dengan solusi yang diberikannya atas permasalahan yang dialami.

Treatment ketiga. Apabila galau karena bingung dalam menentukan suatu keputusan, maka segeralah mencari solusi terbaiknya. Jangan terlalu lama hanyut dalam perasaan karena kelamaan nanti akan tenggelam sehingga semakin runyam untuk menemukan jalan keluar. Selalu putuskan dengan tegas, dengan demikian kebingungan akan berending bahagia. Jangan lupa optimis bahwa apa yang akan dilakukan adalah jalan terbaik.

Treatment keempat. Coba sesekali batasi penggunaan jejaring sosial dan media sosial lainnya, apalagi yang tidak bermanfaat jika serasanya memang mengganggu dan memperparah keadaan diri sendiri. Mulailah untuk berinteraksi dengan manusia secara langsung. 

Treatment kelima. Memperbanyak aktivitas atau kegiatan yang positif dengan orang lain. Mencoba dan harus lakukan menyibukkan diri dengan hal baik nan positif.
Nah, bagi manusia introvert yang sering malas berinteraksi dengan manusia secara langsung, mungkin bisa mengikuti cara saya dengan mengungkapkan kegalauan hati dengan menulis, membaca buku maupun mengerjakan hal positif lainnya.

Treatment bonus. Lakukanlah pendekatan dengan Allah SWT. melalui ibadah yang sempurna, seperti ibadaha malam, ibadah yang tepat waktu atau sekedar membaca kalamNya. Mintalah petunjuk solusi terbaik dariNya, niscaya pertolongan untuk hati atau pikiran yang galau akan hilang, karena hanya Allah sebaik-baiknya penolong kita, bukan? Segala sesuatu memang kembali hanya pada Allah sang empunya semesta ini, ya.

Saran saya teruntuk siapa saja yang sekiranya membaca tulisan ini ditambah sedang mengalami kondisi galau, jika malas melakukan kelima treatment yang telah barusan saya tuliskan, cobalah setiap hari (karena sekali-sekali sudah terlalu mainstream) untuk melakukan treatment bonus itu. Cukup lakukan treatment bonus itu saja, dijamin Insya Allah hati dan pikiran menjadi nyaman aman terkendali dengan baik.

Udah ini saja yang saya tulis. Semoga menjadi tulisan yang bermanfaat dan menginspirasi. 


Malam kelimabelas bulan keempat tahun duakosonglimabelas.
Ttd : Achelia

Kamis, 02 April 2015

Hari ini, saya akan ...

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 06.55 0 komentar
"Hari Kemarin sudah berlalu, kita tidak mungkin mengubahnya. Hari esok di harapan, kita tak tahu apa kita punya kesempatan. Dan, hari ini kesempatan bagi kita untuk beramal saleh. Maka, beramallah sebanyak-banyaknya"
(Hasan Al-Bashri)
Bayangkan kita menjalani hari ini dengan semangat yang tinggi. Bayangkan hari ini adalah satu-satunya hari yang kita miliki. Kemarin sudah berlalu. Besok hadirnya belum tentu. Anggap saja hidup kita cuma hari ini, karena kematian tidak ada yang memberi tahu.

Hari ini hari terbaik saya. Hari ini milik saya. Hari ini bisa menjadi hari terakhir saya, Saya akan membentuk kebiasaan terbaik hari ini. Iya, hari ini. Hari ini saya akan mencurahkan segala perhatian, kepedulian dan kerja keras untuk membentuk kebiasaan terbaik saya.

Hari ini saya akan melakukan shalat yang paling khusyu, dzikir sepenuh hati, doa dengan penuh keyakinan dan membaca Al-Qur'an dengan penuh penghayatan. Saya bertekad untuk mengerjakan shalat wajib tepat waktu dan berjama'ah. Saya akan melakukan shalat sunnah dhuha, sunnah rawatib dan tahajud. Saya akan mengisi waktu dengan membaca buku-buku yang membuatku lebih mengerti agama, memperbaiki akhlak dan meningkatkan kemampuan saya.

Hari ini saya akan melakukan menginsyafi segala dosa. Memohon ampun atas semua salah dan berjanji tidak akan melakukan kedzaliman yang sama. 

Hari ini aku akan melihat diri, keluarga, rezeki, makanan dan minuman saya serta seluruh yang ada padaku dengan ridho campur syukur yang penuh. Hari ini saya memahami bahwa apa yang ada pada saya adalah sebaik=baiknya nikmat dari Pencipta saya.

Hari ini saya akan membagi waktu dengan lebih bijaksana, menjadikan setiap menitnya laksana berbulan-bulan, setiap jamnya laksana bertahun-tahun. Karena saya akan menanamkan perbaikan diri dari setiap detik hidup saya. Saya akan belajar dengan giat penuh semangat.

Hari ini saya tidak akan berbicara kecuali berkata yang baik-baik saja. Saya tidak akan berucap mencela. Saya tidak akan meneliti aib-aib dan mencampuri urusan orang lain. Saya akan menyibukkan diri dengan bermuhasabah diri sendiri. Saya akan sibuk menertibkan urusan saya.

Hari ini saya akan berusaha menanam benih kebaikan. Hari ini saya berusaha mencabut akar keburukan, iri, dengki, dendam, dan prasangka buruk. Hari ini saya akan lebih banyak menebar manfaat. Waktu saya hari ini saya gunakan untuk memberi kebahagiaan pada orang lain, membantu orang yang kesulitan, bersedekah, dan menolong yang lemah. Hari ini tentu saja saya akan memuliakan kedua orangtua saya, adik saya, saudara-saudara saya serta sahabat saya.

Hari ini saya akan membentuk kebiasaan terbaik dalam diri pribadi saya.

Ketika saya menuliskan tiap-tiap kata yang menjadi deretan kalimat ini, terucap dalam hati sebuah doa yang berharap deretan kalimat ini bisa memberikan inspirasi, motivasi dan keyakinan pada saya pribadi serta semua manusia yang sekiranya berkenan membaca ini.

-inspired by buku 'Halaqah Cinta"-

Senin, 30 Maret 2015

Tulisan Bingung

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 07.54 0 komentar
Assalamu'alaikum.

Bersua lagi dengan tulisan saya dalam laman blog yang-sudah-amat-sangat-usang-tak terurus ini. Setelah selama dua bulan vakum menulis ada dua rasa yang saya rasakan sekarang ini. Rasanya itu, pikiran menjadi kaku dan tangan menjadi tremor.

Yang pertama,  pikiran menjadi kaku.
Kenapa pikiran bisa kaku? Pikiran menjadi kaku lantaran saya sudah cukup lama vakum untuk menulis apapun, yang biasanya bisa saya share kedalam blog usang saya punya ini, sehingga pikiran menjadi sulit untuk mengeksplorasi ide-ide , menjadi tidak selancar biasanya.

Yang kedua, tangan menjadi tremor. 
Kenapa tangan bisa tremor? Tangan menjadi tremor lantaran saya bingung ingin menuliskan apa disini, iyalah hal ini jelas bisa terjadi karena sangat dipengaruhi oleh rasa yang pertama, pikiran yang sedang kaku membuat tangan tidak bisa berjalan beriringan untuk menulisakan sesuatu.

Seperti halnya malam ini, diwakili dengan banyak kalimat yang saya tuliskan diatas telah jelas menjelaskan bahwa saya bingung mau menuliskan apa dilaman blog usang saya punya ini, pun bingung harus memulai dari bagian mana. Karena saya juga bingung mau menuliskan tentang apa. Sebab itu saya menjadi bingung. Dan saya sekarang semakin bingung. Bingung. Pembaca juga bingung. Well, Kalimat bingung yang membingungkan ini jangan terlalu dibaca dan dipahami, bisa jadi akan menambah kebingungan dan menjadi bingung. Karena menurut saya sesuatu yang membuat bingung tidak akan menghasilkan suatu keuntungan di masa depan. Dan terbaca kalimat barusan tidak sangat nyambung dengan kalimat sebelumnya , maka semakin membuat bingung. Dan...sudah ya nanti semakin bingung.

Tapi dalam peristiwa saya vakum menulis ini ada beberapa patahan kalimat yang akan saya tuliskan sekarang , "bahwa segala kebiasaan yang baik jangan sesekali ditinggalkan atau ditunda mengerjakannya. Ingat selalu pepatah lama, bahwa mempertahankan sesuatu jauh lebih sulit daripada saat memulai mendapatkannya". - semoga menjadi patahan kata yang menginspirasi.

Malam ketigapuluh bulan ketiga, jam 22.00

Sabtu, 24 Januari 2015

Allah dulu, Allah lagi, Allah selalu

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 21.00 0 komentar
Bismillah. 

Kita sebagai manusia yang hidup tidak akan lepas dari masalah. Pernah sempat merasa gunda gulana nan gelisah resah karena masalah hidup belum terlihat titik berakhirnya. Lalu kemanakah manusia harus berlari meminta bantuan? Jawabannya hanya satu yaitu Allah azza wajalla. Terkadang ini yang dilupakan oleh manusia. Merasa khawatir karena masalahnya yang besar, padahal manusia mempunyai Allah yang Maha Besar. Bukankah Allah telah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 173, yang berbunyi : 
...hasbunallah wa ni’mal wakiil (QS. 03:173). Artinya : “...cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung (QS. 03:173) . Ayat tersebut telah jelas mengatakan bahwa Allah adalah sebaik-baiknya penolong dan pelindung bagi manusia. Jadi, masih adakah lagi ragu untuk meminta pertolongan-Nya? Masih adakah lagi ketakutan menghadapi masalah yang diberi-Nya?

Kita sebagai manusia yang hidup hendaknya hanya menjadikan Allah sebagai tempat untuk bergantung, karena niscaya hati tidak akan merasakan kecewa. Menggantungkan segala harapan tentang hidup hanya pada Allah, karena hati telah percaya bahwa segala alur hidup dari-Nya selalu luar biasa. Sekalipun terkadang apa yang terjadi tidak sesuai keinginan hati, percayalah bahwa Allah lebih mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh manusianya. Alangkah baiknya jika hidup dipenuhi syukur, sebab "nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?". Tidak ada pula hidup yang sia-sia, lekatkan kepercayaan akan kuasa tangan-Nya yang telah merancang tiap-tiap alur kehidupan ini, dimana selalu terselip rasa rencana terbaik yang rasanya luar biasa.

Kita sebagai manusia yang hidup hendaknya senantiasa mengingat-Nya, dengan menyebut asma-Nya melalui dzikir. Sebagaimana yang telah di firmankan Allah melalui Qur'an Surah Arro'du ayat 28 yang artinya : "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Arro'du: 28)
Jadi sering-seringlah mengingat Allah (berdzikir) maka manusia akan memperoleh ketenangan didalam hatinya. Insya Allah .

Tulisan kecil sekedar untuk mengingatkan saya pribadi, kamu, kalian dan semua manusia-Nya yang kiranya berkenan untuk membaca tulisan ini.

Jumat, 23 Januari 2015

10 Wasiat Imam Hasan Al-bana

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 08.13 0 komentar
1. Sholat di awal waktu. Bangunlah segera untuk sholat bagaimanapun keadaan. Bukankah Allah telah memudahkan manusiaNya yang hendak tunaikan ibadah? Tidak ada alasan untuk nggak mengerjakan sholat ya.
2. Selalulah membaca dan mentelaah Al-Qur'an, buku-buku, mendengar ceramah agama, berdzikirullah dan jangan membuang masa dengan perkara yang tidak berfaedah.
3. Bersungguh-sungguh untuk bisa berbahasa arab dengan fasih.
4. Jangan banyak bertengkar dan mengundang perdebatan di berbagai kesempatan.
5. Jangan terlalu banyak tertawa, sebab tertawa yang berlebihan akan mengeraskan hati. Bagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW, yang telah disampaikan oleh 'Aisyah Radhiallaahu anha : "Belum pernah  aku melihat Rasulullah tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan anak lidah beliau. Namun beliau hanya tersenyum." (HR. Muttafaq 'alaih) . dan sesungguhnya Allah memanggil jiwa-jiwa yang tenang.
6. Jangan banyak bergurau, karena umat yang berjihad itu selalu serius dengan amanah yang di jalankan. Maka bersungguh-sungguhlah dalam keseriusan.
7. Jangan mengeraskan suara yang tidak perlu ketika bercakap dengan orang lain, dan bercakap sesuai yang dibutuhkan.
8. Jauhi ghibah, perbuatan mengumpat atau menyakiti orang lain dalam bentuk apapun.
9. Berkenalan dengan saudara-saudara sesama muslim yg kamu temui meskipun tidak diminta. Tentunya dengan adab ; yang akhwat dengan akhwat dan yang ikhwan dengan ikhwat , jangan sebaliknya.
10. Gunakan masa dengan sebaiknya dan ringkaslah pelaksanan pekerjaan rumah daripada waktu yang tersedia.
 
 

Rabu, 21 Januari 2015

Assalamu'alaykum, 19!

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 03.00 0 komentar
Bismillah.

Hati mengucap lirih kata-kata penuh syukur dibulan Januari, tepatnya di malam kedua puluh satu ini. Maha pengatur waktu memang telah membuat waktu tidak lagi berjalan, namun seakan berlari. Lagi, hari ini peristiwa sejarah dalam hidup saya terulang kembali. Peristiwa berkurangnya usia diri. Sujud syukur dipersembahkan guna menyambut nikmat Allah azza wajalla yang telah membawa saya hingga pada hari ini. 

Usia baru yang berkurang satu tahun ini telah mengingatkan saya bahwa batas tahap remaja saya akan selesai, dan segera memasuki tahap menjadi makhluk dewasa. Usia baru yang berkurang satu tahun ini telah mengingatkan saya bahwa "usia yang sebenar-benarnya usia" sejatinya telah berkurang lagi satu . Usia baru yang berkurang satu tahun ini telah mengingatkan bahwa saya harus terus-selalu bermuhasabah diri, karena sangat sadar jika selama sembilanbelas tahun hidup tidak lepas dari dosa kesalahan penuh kekurangan, mengingat kembali apa yang telah tercapai dan apa yang belum tercapai hingga pada usia ini.  

Sama halnya seperti tahun lalu ketika usia dunia saya berkurang satu, saya menikmati hari itu di tanah jogja. pun saat ini , saya kembali bisa menikmati suasana atmosfer berkurangnya satu tahun usia dunia saya didalam atmosfer tanah jogja, pada balik tembok kamar kontrakan saya. Tahun lalu, masih sangat teringat jelas di pikiran bahwa saya pernah menulis di laman blog usang ini, yang isinya : "Masih sampaikah nafas usia saya ditahun yang akan datang?" Maka malam kedua puluh satu ini adalah jawaban yang Allah telah berikan.

Maka nikmat Allah manalagi yang kau dustakan? Jawabannya tidak ada. Karena semua yang terjadi dalam hidup telah di tata rapi dalam buku skenario terbaik Allah bernama Lauhul Mahfuz, dimana semua yang tertulis disana tentu selalu terselip rasa nikmat nan baik. Begitupun peristiwa berkurangnya satu tahun usia saya ini, Allah tentu telah menuliskan ini dalam skenarioNya jauh sebelum saya ada menapak bumiNya.  

Teruntuk usia baru yang berkurang satu tahun ini, ada hati yang meminta penuh harap...tangan Allah senantiasa memudahkan saya dalam beristiqomah menuju perempuan yang mempunyai hati tawwadu', senantiasa diberikan pemahaman tentang hidup melalui peristiwa pahit-manisnya kehidupan yang kelak akan melahirkan kedewasaan berpikir agar dapat menyikapi persoalan hidup, serta senantiasa tercurahkan limpahan kebahagian penuh berkah dalam kehidupan dunia dan akhirat.  

Kembali hari ini saya bertanya, masih sampaikah nafas usia saya ditahun yang akan datang? Semoga Allah selalu ridho memanjangkan usia dunia saya, lagi. dan pada patahan kata terakhir ini ada sapaan penuh syukur yang bertuliskan "Assalamu'alaykum 19tahun!"
 

tanah jogja, 21 januari 2015. At Achelia's Kingdom



Kamis, 01 Januari 2015

ahlan wa sahlan 2015

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 00.00 0 komentar
Blog yang tidak menyerupai blog, usang berdebu penuh sawang karena ditinggalkan oleh majikannya yang tenggelam dalam kesibukan kuliah. Setelah kurang lebih 4 bulan tidak produktif untuk menulis di laman blog usang ini, memendam inspirasi karena harus terhalang dengan kesibukkan kuliah yang hampir tidak menyisakan waktu untuk saya menulis. Bersyukurnya hari ini ada luang waktu, sehingga kesempatan ini saya gunakan untuk menelurkan sedikit inspirasi yang siap untuk dituliskan.

Hari ini merupakan malam terakhir di bulan akhir ditahun 2014. Begitu cepatnya roda waktu berputar hingga kita berjumpa pada bulan akhir ini lagi. Padahal, kayaknya baru kemarin saya menulis tentang penghujung tahun dilaman blog ini juga. Betapa kuasa tangan Allah telah membuat waktu dunia berjalan begitu cepat.

Sebagaimana malam yang tetap sama, malam yang tetap segumpalan gelap. Harapan manusia mulai terurai ketika penghujung tahun. Perayaan mulai dimeriahkan untuk menyambut suasana yang katanya baru. Begitupun saya merayakannya bersama rasa bersyukur karena masih bisa merasakan atmosfer ini ditanah jogja, sama seperti tahun sebelumnya.

Alangkah manfaatnya yang baru ini dipenuhi bermuhasabah diri, seperti dengan belajar menekan keegoisan diri untuk mendapatkan hati yang lebih tawwadu. Mengelola sabar agar jiwa merasakan nikmatnya ikhlas. Bermuhasabah diri untuk meng-upgrade kedewasaan hati untuk melahirkan jiwa yang lebih berkualitas lagi dari sebelumnya. 



Disamping kemeriahan bunyi kembang api yang hanya membuat bising, ada satu hal yang kita nggak boleh lupa, bahwa semakin bertambahnya tahun dunia, maka mengartikan pula semakin tua rentanya usia hidup kita dibumi Allah ini.


@ Tengah malam ditanah jogja, tanggal terakhir dibulan terakhir 2014.

Jumat, 12 September 2014

Homesick

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 22.00 0 komentar
Salam rindu, blog. Beri ijin untuk majikanmu yang malam ini ingin kembali menjamahmu dengan torehan cerita perasaannya hari ini. 

Malam ketiga saya kembali menginjak tanah jogja dan kembali menempati ruang kamar kostan saya. Entah kenapa ada atmosfer yang berbeda saya rasakan didalamnya nan serta merta merasuk kedalam perasaan jiwa melankolis saya. Sebuah perasaan rindu yang amat dalam akan kehangatan suasana riuh pada naungan yang menjadi tempat berkembang hidup kedua orangtua dan anak-anaknya.
Mungkinkah ini yang dinamakan rindu akan kampung halaman alias rumah atau bahasa kerennya "homesick" ? Seperti yang pernah saya tuliskan dalam laman blog sebelumnya, bahwa bagaimanapun indahnya dunia luar, rumah akan tetap menjadi tempat untuk pulang kembali. Begitupun yang dirasakan malam ini, saya ingin kembali pulang kerumah.

Entah mengapa rasa rindu ini datangnya sedikit mengagetkan jiwa. Saya memang seorang introvert yang menyukai sendirian, tapi nyatanya saya belum bisa sepenuhnya survive ketika merasakan kesepian yang datangnya tiba-tiba serta tidak mengenakkan ini. Malam ini saya hanya butuh orangtua, adik dan teman terdekat untuk meramaikan sepi, tapi apalah daya ketika semuanya terjangkau karena jarak.

Mungkin saja malam ini jiwa melankolis saya sedang mengalami gangguan yang entah apa saya menyebutnya. Ketika homesick ini membuat sembab yang menyertai sesak nafas, saya hanya bisa berdoa semoga ini lekas sembuh dan saya bisa kembali normal tanpa keluhan untuk menjalani alur hidup dariNya yang luar biasa ditanah rantau ini .




@ 22.00 wib -12 September 2014, at tanah jogja

Selasa, 12 Agustus 2014

Eksperimen ala Achelia. Happy cooking!^^

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 07.38 0 komentar
Assalamu'alaykum wr. wb
Hari ini saya ingin kembali berbagi cerita. Pada liburan semester kuliah yang telah berlalu beberapa hari yang lalu saya menyempatkan untuk melalukan eksperimen baru didalam sebuah ruangan yang disebut dapur. Eksperimen ini adalah buah mahakarya dari imajinasi ketika liburan dirumah. Saya bereksperimen dengan membuat makanan yang tentunya bisa untuk dimakan dengan rasa yang enak menurut saya dan Ibnu, adik saya.
Berikut ini beberapa bahan yang perlu disediakan :
1. Pisang. Bisa menggunakan pisang jenis apa saja sesuai selera, jika ingin lebih enak bisa menggunakan pisang raja.
2. Tepung Terigu, sebagai adonan. Tidak ada takaran untuk membuatnya, bisa diambil sesuai selera saja (ingin banyak atau sedikit). Jika dalam gambar ini, saya menggunakan satu bungkus tepung terigu untuk membuat adonan.
3. 1 butir telur ayam.
4. Gula pasir. Tidak ada takaran juga, bisa diambil sesuai selera. Jika ingin manis, bisa ditambahkan 5-10 sendok makan, jika ingin tidak terlalu manis bisa ditambahkan 3-5 sendok makan.
5. 1 bungkus vanili, agar harum. Bahan ini tidak wajib harus disediakan, semua kembali lagi kepada sesuai selera pembuatnya.
6. Air putih, secukupnya.

Untuk membuatnya sangat sederhana dan mudah. How to do it? Let's read this and ready for cooking!^^
Step 1 : Potong pisang berbentuk bulat/serong/sesuai selera.
Step 2 : Campurkan tepung terigu, gula pasir, 1 butir telur ayam, dan 1 bungkus vanili dalam sebuah wadah. Wadah ini bisa menggunakan mangkok ukuran besar.
Step 3 : Tambahkan air putih secukupnya dengan sambil diaduk hingga semua bahan diatas tercampur. Pastikan agar adonan tidak menggumpal dan adonannya menjadi encer.
Step 4 : Tuang adonan kedalam teflon untuk membuat adonan menjadi berbentuk dadar, yang akan dijadikan sebagai kulitnya.
Step 5 : Berikan pisang yang sudah dipotong-potong tadi sesuai selera diatas adonan kulit tersebut. Kemudian lipat kulitnya.
Step 6 : Sajikan bersama minuman hangat/dingin. Tetapi saya merekomendasikan menyajikannya bersama minuman capucinno dingin. Cocok disantap untuk bahan makanan sarapan pagi juga lho.



Jreng jreng...seperti ini penampakan dari wujud makanan yang saya buat dalam eksperimen didapur pada masa liburan semester kuliah. Semoga bisa menambah persediaan cemilan dirumah dan kreasi menu makanan saat sarapan pagi. Happy cooking!^^


 Rumah, 04 Agustus 2014 @11.30 wib

Jumat, 01 Agustus 2014

Terimakasih senyumanmu.

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 22.00 0 komentar

"Ketika jarak tidak lagi tak terjangkau kaki, ketika waktu yang tidak lagi membatasi, dan dimensi ruang yang tidak lagi berbeda dan menyekati, maka ketika itu juga mencairlah kerinduan dalam dua jiwa manusia".  

Perjuangan rasa yang dibalas dengan pertemuan, perjalanan, senda gurau dan tukar cerita selama beberapa jam telah mampu membantu meleburkan kerinduan ini. Saya bersyukur berkat waktuNya telah membuat jarak itu menjadi terasa dekat. Saya berterimakasih berkat senyumannya yang telah ikut serta membantu meleburkan kerinduan dan menemani di sepanjang pertemuan dan perjalanan hari ini. Saya terkesan karena tanpa sadar kita saling melempar senyum tanpa henti. Selanjutnya kita akan kembali berkerjasama dalam pertarungan menghadapi pilunya menahan rindu karena jarak yang menyekati berkilo-kilometer. 

Saya tulis ini untuk mengabadikan senyuman kita, dan kelak ini akan menjadi bagian cerita indah untuk masa depan bersama. Terimakasih, senyumanmu :)


Tanah Cikarang, 01 Agustus 2014 @ 14.30 wib

Kamis, 31 Juli 2014

Rumah, saya pulang.

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 22.00 0 komentar

Hi. 
Assalamu’alaykum blog, majikanmu telah datang kembali menjamahmu lewat ocehan ceritanya. 
Sebulan belakangan ini saya telah menempuh perjalanan jauh berkilo-kilometer yang sangat mengesankan dalam sejarah perjalanan hidup. Bagaimana tidak, setelah merasa kenyang mengalami suasana Ramadhan didalam tanah Jogjakarta, lalu saya menyambangi tanah jawa berikutnya di bagian timur tepatnya di Madiun, kota kelahiran. Ditanah jawa bagian timur sana, saya menikmati atmosfer suasana Idul Fitri yang cukup mengesankan. Ini memang bukan kali pertama, tapi rasanya seperti pertama kali merasakan suasana Idul Fitri ditanah jawa bagian timur ini. Meskipun Ramadhan tahun ini diberikan banyak sekali kejutan, dari-yang tidak bisa merasakan puasa pertama ditanah Jogjakarta, lalu dipenghujung Idul Fitri-tidak bisa juga melaksanakan sholat eid ditanah jawa bagian timur ini. Ah memang RamadhanMu tahun ini penuh kejutan yang luar biasa. Saya bersyukur dan sungguh menikmati.


Perjalanan belum berakhir. Selang tiga hari setelah Idul Fitri, saya kembali melakukan perjalanan menuju kota ditanah jawa bagian barat. Singkatnya, saya pulang kehabitat dimana saya dan keluarga saya bertahan hidup, akhirnya menuju Rumah. 

Rumah, saya pulang.


Dulu pernah saya membaca sebuah quote yang kurang lebih berbunyi begini : "....rumah merupakan tempatmu untuk kembali". Quote yang memang singkat, karena hanya demikian yang saya ingat. Namun tersirat makna yang hebat. 
Bahwa sekuat apapun godaan keindahan tempat yang sekarang menjadi persinggahan hidup, disaat waktu memutuskan untuk pulang, rumah-lah yang menjadi tempat untuk kembali pada persinggahan hidup yang sebenarnya dan menjadi penghangat untuk merehatkan lelah. Begitupun juga pada saya yang telah jatuh cinta pada tanah jogja sejak dulu dan sekarang berhasil tinggal disana untuk menyelesaikan masa studi saya, namun saya tetap memilih bahwa rumah adalah tempat ternyaman untuk saya kembali.

Pada liburan semester yang singkat ini, saya berencana akan memberikan waktu yang terbaik untuk rumah. Setidaknya selama berada dirumah, saya bisa kembali menikmati pekerjaan membersihkan lantai-lantai dalam rumah saya. Penghargaan yang sederhana untuk rumah saya atas kerinduan selama enam bulan lebih meninggalkan rumah dan hanya dibayar dengan waktu selama seminggu lebih setengah hari. Waktu yang singkat. Namun, semoga Maha pemilik waktu tidak dulu menyingkatkan waktu dunia saya, agar saya masih bisa untuk kembali pulang menikmati rumah dan berkata "Rumah, saya pulang".

Rabu, 23 Juli 2014

Selfie Time

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 21.00 0 komentar
(Temu kangen yang berujung pada selfie with Ibnu Rahman Mulmuflihun at tanah Jogja)

Terimakasih pada tanah Jogja

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 20.30 0 komentar

Salam hangat rasa kangen terkhusus untukmu, blog usang penuh mimpi kesayanganku. Bersyukur majikanmu ini masih diberikan waktu dan nafasNya untuk kembali bisa menjamahmu. Sudah berapa lama kita tidak bersua, blog? Ah lama sekali ya, berikanlah ampun untuk majikanmu yang malas menulis ini .

Malam hari ini adalah malam terakhir di bulan Juli. 
Waktu telah berhasil memakan habis bulan Juli hingga tersisa akhir ini untuk dinikmati. Seperti halnya dengan Ramadhan ini, yang kian habis dimakan oleh waktu dan akan menemui titik kemenangan, namun itu merupakan awal kepergiannya.

Genap sudah saya menghabiskan Ramadhan ditanah Jogja tercinta. Kemudian berencana untuk bersua dengan titik kemenangan di salah satu tanah kota jawa bagian timur, tempat kelahiran saya dulu dan juga tempat saya menumpang bernafas serta menangis selama tiga bulan.

Jogja...
terimakasih telah membantu menemaniku menikmati Ramadhan dalam kesendirian kamar kontrakan kecilku, sehingga membuatku merasakan atmosfer Ramadhan yang berbeda tahun ini, yang insya Allah tidak mengurangi kekhusyuan-ku dalam aktivitas ibadah Ramadhan-ku tahun ini. Rasanya tidak ingin meninggalkan Ramadhan ini, namun kehendak waktu telah menggariskan takdirNya.

Jogja...
Akankan usia duniaku sampai pada Ramadhan tahun esok sehingga aku bisa kembali merasakan atmosfer Ramadhan disini? Entahlah, kita tidak akan bisa mengetahui segala itu sebelum waktuNya tiba nanti. Dan pada patahan kata terakhir ini, saya berterimakasih pada tanah Jogja.
 

Regnum Imaginaria Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei