Blog yang tidak menyerupai blog, usang berdebu penuh sawang karena
ditinggalkan oleh majikannya yang tenggelam dalam kesibukan kuliah.
Setelah kurang lebih 4 bulan tidak produktif untuk menulis di laman blog
usang ini, memendam inspirasi karena harus terhalang dengan kesibukkan
kuliah yang hampir tidak menyisakan waktu untuk saya menulis. Bersyukurnya hari ini ada luang waktu, sehingga kesempatan ini saya gunakan untuk menelurkan sedikit inspirasi yang siap untuk dituliskan.
Hari ini merupakan malam terakhir di
bulan akhir ditahun 2014. Begitu cepatnya roda waktu berputar hingga
kita berjumpa pada bulan akhir ini lagi. Padahal, kayaknya baru kemarin
saya menulis tentang penghujung tahun dilaman blog ini juga.
Betapa kuasa tangan Allah telah membuat waktu dunia berjalan begitu cepat.
Sebagaimana malam yang tetap sama, malam
yang tetap segumpalan gelap. Harapan manusia mulai terurai ketika penghujung tahun. Perayaan mulai dimeriahkan untuk menyambut suasana yang katanya baru. Begitupun saya merayakannya bersama rasa bersyukur karena
masih bisa merasakan atmosfer ini ditanah jogja, sama seperti tahun
sebelumnya.
Alangkah manfaatnya yang baru ini
dipenuhi bermuhasabah diri, seperti dengan belajar menekan keegoisan
diri untuk mendapatkan hati yang lebih tawwadu. Mengelola sabar agar
jiwa merasakan nikmatnya ikhlas. Bermuhasabah diri untuk meng-upgrade
kedewasaan hati untuk melahirkan jiwa yang lebih berkualitas lagi dari
sebelumnya.
Disamping kemeriahan bunyi kembang api
yang hanya membuat bising, ada satu hal yang kita nggak boleh lupa,
bahwa semakin bertambahnya tahun dunia, maka mengartikan pula semakin
tua rentanya usia hidup kita dibumi Allah ini.
@ Tengah malam ditanah jogja, tanggal terakhir dibulan terakhir 2014.
Kamis, 01 Januari 2015
Jumat, 12 September 2014
Homesick
Salam rindu, blog. Beri ijin untuk majikanmu yang malam ini ingin kembali menjamahmu dengan torehan cerita perasaannya hari ini.
Malam ketiga saya kembali menginjak tanah jogja dan kembali menempati ruang kamar kostan saya. Entah kenapa ada atmosfer yang berbeda saya rasakan didalamnya nan serta merta merasuk kedalam perasaan jiwa melankolis saya. Sebuah perasaan rindu yang amat dalam akan kehangatan suasana riuh pada naungan yang menjadi tempat berkembang hidup kedua orangtua dan anak-anaknya.
Mungkinkah ini yang dinamakan rindu akan kampung halaman alias rumah atau bahasa kerennya "homesick" ? Seperti yang pernah saya tuliskan dalam laman blog sebelumnya, bahwa bagaimanapun indahnya dunia luar, rumah akan tetap menjadi tempat untuk pulang kembali. Begitupun yang dirasakan malam ini, saya ingin kembali pulang kerumah.
Entah mengapa rasa rindu ini datangnya sedikit mengagetkan jiwa. Saya memang seorang introvert yang menyukai sendirian, tapi nyatanya saya belum bisa sepenuhnya survive ketika merasakan kesepian yang datangnya tiba-tiba serta tidak mengenakkan ini. Malam ini saya hanya butuh orangtua, adik dan teman terdekat untuk meramaikan sepi, tapi apalah daya ketika semuanya terjangkau karena jarak.
Mungkin saja malam ini jiwa melankolis saya sedang mengalami gangguan yang entah apa saya menyebutnya. Ketika homesick ini membuat sembab yang menyertai sesak nafas, saya hanya bisa berdoa semoga ini lekas sembuh dan saya bisa kembali normal tanpa keluhan untuk menjalani alur hidup dariNya yang luar biasa ditanah rantau ini .
Mungkin saja malam ini jiwa melankolis saya sedang mengalami gangguan yang entah apa saya menyebutnya. Ketika homesick ini membuat sembab yang menyertai sesak nafas, saya hanya bisa berdoa semoga ini lekas sembuh dan saya bisa kembali normal tanpa keluhan untuk menjalani alur hidup dariNya yang luar biasa ditanah rantau ini .
@ 22.00 wib -12 September 2014, at tanah jogja
Categories
Story
Selasa, 12 Agustus 2014
Eksperimen ala Achelia. Happy cooking!^^
Assalamu'alaykum wr. wb
Hari ini saya ingin kembali berbagi cerita. Pada liburan semester kuliah yang telah berlalu beberapa hari yang lalu saya menyempatkan untuk melalukan eksperimen baru didalam sebuah ruangan yang disebut dapur. Eksperimen ini adalah buah mahakarya dari imajinasi ketika liburan dirumah. Saya bereksperimen dengan membuat makanan yang tentunya bisa untuk dimakan dengan rasa yang enak menurut saya dan Ibnu, adik saya.
Berikut ini beberapa bahan yang perlu disediakan :
1. Pisang. Bisa menggunakan pisang jenis apa saja sesuai selera, jika ingin lebih enak bisa menggunakan pisang raja.
2. Tepung Terigu, sebagai adonan. Tidak ada takaran untuk membuatnya, bisa diambil sesuai selera saja (ingin banyak atau sedikit). Jika dalam gambar ini, saya menggunakan satu bungkus tepung terigu untuk membuat adonan.
3. 1 butir telur ayam.
4. Gula pasir. Tidak ada takaran juga, bisa diambil sesuai selera. Jika ingin manis, bisa ditambahkan 5-10 sendok makan, jika ingin tidak terlalu manis bisa ditambahkan 3-5 sendok makan.
5. 1 bungkus vanili, agar harum. Bahan ini tidak wajib harus disediakan, semua kembali lagi kepada sesuai selera pembuatnya.
6. Air putih, secukupnya.
Untuk membuatnya sangat sederhana dan mudah. How to do it? Let's read this and ready for cooking!^^
Step 1 : Potong pisang berbentuk bulat/serong/sesuai selera.
Step 2 : Campurkan tepung terigu, gula pasir, 1 butir telur ayam, dan 1 bungkus vanili dalam sebuah wadah. Wadah ini bisa menggunakan mangkok ukuran besar.
Step 3 : Tambahkan air putih secukupnya dengan sambil diaduk hingga semua bahan diatas tercampur. Pastikan agar adonan tidak menggumpal dan adonannya menjadi encer.
Step 4 : Tuang adonan kedalam teflon untuk membuat adonan menjadi berbentuk dadar, yang akan dijadikan sebagai kulitnya.
Step 5 : Berikan pisang yang sudah dipotong-potong tadi sesuai selera diatas adonan kulit tersebut. Kemudian lipat kulitnya.
Step 6 : Sajikan bersama minuman hangat/dingin. Tetapi saya merekomendasikan menyajikannya bersama minuman capucinno dingin. Cocok disantap untuk bahan makanan sarapan pagi juga lho.
Jreng jreng...seperti ini penampakan dari wujud makanan yang saya buat dalam eksperimen didapur pada masa liburan semester kuliah. Semoga bisa menambah persediaan cemilan dirumah dan kreasi menu makanan saat sarapan pagi. Happy cooking!^^
Hari ini saya ingin kembali berbagi cerita. Pada liburan semester kuliah yang telah berlalu beberapa hari yang lalu saya menyempatkan untuk melalukan eksperimen baru didalam sebuah ruangan yang disebut dapur. Eksperimen ini adalah buah mahakarya dari imajinasi ketika liburan dirumah. Saya bereksperimen dengan membuat makanan yang tentunya bisa untuk dimakan dengan rasa yang enak menurut saya dan Ibnu, adik saya.
Berikut ini beberapa bahan yang perlu disediakan :
1. Pisang. Bisa menggunakan pisang jenis apa saja sesuai selera, jika ingin lebih enak bisa menggunakan pisang raja.
2. Tepung Terigu, sebagai adonan. Tidak ada takaran untuk membuatnya, bisa diambil sesuai selera saja (ingin banyak atau sedikit). Jika dalam gambar ini, saya menggunakan satu bungkus tepung terigu untuk membuat adonan.
3. 1 butir telur ayam.
4. Gula pasir. Tidak ada takaran juga, bisa diambil sesuai selera. Jika ingin manis, bisa ditambahkan 5-10 sendok makan, jika ingin tidak terlalu manis bisa ditambahkan 3-5 sendok makan.
5. 1 bungkus vanili, agar harum. Bahan ini tidak wajib harus disediakan, semua kembali lagi kepada sesuai selera pembuatnya.
6. Air putih, secukupnya.
Untuk membuatnya sangat sederhana dan mudah. How to do it? Let's read this and ready for cooking!^^
Step 1 : Potong pisang berbentuk bulat/serong/sesuai selera.
Step 2 : Campurkan tepung terigu, gula pasir, 1 butir telur ayam, dan 1 bungkus vanili dalam sebuah wadah. Wadah ini bisa menggunakan mangkok ukuran besar.
Step 3 : Tambahkan air putih secukupnya dengan sambil diaduk hingga semua bahan diatas tercampur. Pastikan agar adonan tidak menggumpal dan adonannya menjadi encer.
Step 4 : Tuang adonan kedalam teflon untuk membuat adonan menjadi berbentuk dadar, yang akan dijadikan sebagai kulitnya.
Step 5 : Berikan pisang yang sudah dipotong-potong tadi sesuai selera diatas adonan kulit tersebut. Kemudian lipat kulitnya.
Step 6 : Sajikan bersama minuman hangat/dingin. Tetapi saya merekomendasikan menyajikannya bersama minuman capucinno dingin. Cocok disantap untuk bahan makanan sarapan pagi juga lho.
Jreng jreng...seperti ini penampakan dari wujud makanan yang saya buat dalam eksperimen didapur pada masa liburan semester kuliah. Semoga bisa menambah persediaan cemilan dirumah dan kreasi menu makanan saat sarapan pagi. Happy cooking!^^
Rumah, 04 Agustus 2014 @11.30 wib
Categories
Story
Jumat, 01 Agustus 2014
Terimakasih senyumanmu.
"Ketika jarak tidak lagi tak
terjangkau kaki, ketika waktu yang tidak lagi membatasi, dan dimensi ruang yang tidak lagi berbeda dan menyekati, maka ketika itu juga mencairlah kerinduan dalam dua jiwa manusia".
Perjuangan rasa yang dibalas dengan pertemuan, perjalanan, senda gurau dan tukar cerita selama beberapa jam telah mampu membantu meleburkan kerinduan ini. Saya bersyukur berkat waktuNya telah membuat jarak itu menjadi terasa dekat. Saya berterimakasih berkat senyumannya yang telah ikut serta membantu meleburkan kerinduan dan menemani di sepanjang pertemuan dan perjalanan hari ini. Saya terkesan karena tanpa sadar kita saling melempar senyum tanpa henti. Selanjutnya kita akan kembali berkerjasama dalam pertarungan menghadapi pilunya menahan rindu karena jarak yang menyekati berkilo-kilometer.
Saya tulis ini untuk mengabadikan senyuman kita, dan kelak ini akan menjadi bagian cerita indah untuk masa depan bersama. Terimakasih, senyumanmu :)
Tanah Cikarang, 01 Agustus 2014 @ 14.30 wib
Categories
Story
Kamis, 31 Juli 2014
Rumah, saya pulang.
Hi.
Assalamu’alaykum blog, majikanmu telah datang kembali menjamahmu lewat ocehan ceritanya.
Sebulan belakangan ini saya telah menempuh perjalanan jauh
berkilo-kilometer yang sangat mengesankan dalam sejarah perjalanan hidup.
Bagaimana tidak, setelah merasa kenyang mengalami suasana Ramadhan didalam
tanah Jogjakarta, lalu saya menyambangi tanah jawa berikutnya di bagian timur
tepatnya di Madiun, kota kelahiran. Ditanah jawa bagian timur sana, saya
menikmati atmosfer suasana Idul Fitri yang cukup mengesankan. Ini memang bukan
kali pertama, tapi rasanya seperti pertama kali merasakan suasana Idul Fitri
ditanah jawa bagian timur ini. Meskipun Ramadhan tahun ini diberikan banyak
sekali kejutan, dari-yang tidak bisa merasakan puasa pertama ditanah
Jogjakarta, lalu dipenghujung Idul Fitri-tidak bisa juga melaksanakan sholat eid
ditanah jawa bagian timur ini. Ah memang RamadhanMu tahun ini penuh kejutan
yang luar biasa. Saya bersyukur dan sungguh menikmati.
Perjalanan
belum berakhir. Selang tiga hari setelah Idul Fitri, saya kembali melakukan
perjalanan menuju kota ditanah jawa bagian barat. Singkatnya, saya pulang
kehabitat dimana saya dan keluarga saya bertahan hidup, akhirnya menuju Rumah.
Rumah, saya pulang.
Dulu pernah saya membaca sebuah quote yang kurang lebih berbunyi begini : "....rumah merupakan tempatmu untuk kembali". Quote yang memang singkat, karena hanya demikian yang saya ingat. Namun tersirat makna yang hebat.
Bahwa sekuat apapun godaan keindahan tempat yang sekarang menjadi persinggahan hidup, disaat waktu memutuskan untuk pulang, rumah-lah yang menjadi tempat untuk kembali pada persinggahan hidup yang sebenarnya dan menjadi penghangat untuk merehatkan lelah. Begitupun juga pada saya yang telah jatuh cinta pada tanah jogja sejak dulu dan sekarang berhasil tinggal disana untuk menyelesaikan masa studi saya, namun saya tetap memilih bahwa rumah adalah tempat ternyaman untuk saya kembali.
Pada liburan semester yang singkat ini, saya berencana akan memberikan waktu yang terbaik untuk rumah. Setidaknya selama berada dirumah, saya bisa kembali menikmati pekerjaan membersihkan lantai-lantai dalam rumah saya. Penghargaan yang sederhana untuk rumah saya atas kerinduan selama enam bulan lebih meninggalkan rumah dan hanya dibayar dengan waktu selama seminggu lebih setengah hari. Waktu yang singkat. Namun, semoga Maha pemilik waktu tidak dulu menyingkatkan waktu dunia saya, agar saya masih bisa untuk kembali pulang menikmati rumah dan berkata "Rumah, saya pulang".
Categories
Story
Rabu, 23 Juli 2014
Terimakasih pada tanah Jogja
Salam
hangat rasa kangen terkhusus untukmu, blog usang penuh mimpi kesayanganku.
Bersyukur majikanmu ini masih diberikan waktu dan nafasNya untuk kembali bisa
menjamahmu. Sudah berapa lama kita tidak bersua, blog? Ah lama sekali ya,
berikanlah ampun untuk majikanmu yang malas menulis ini .
Malam
hari ini adalah malam terakhir di bulan Juli.
Waktu telah berhasil memakan
habis bulan Juli hingga tersisa akhir ini untuk dinikmati. Seperti halnya
dengan Ramadhan ini, yang kian habis dimakan oleh waktu dan akan menemui titik
kemenangan, namun itu merupakan awal kepergiannya.
Genap
sudah saya menghabiskan Ramadhan ditanah Jogja tercinta. Kemudian berencana
untuk bersua dengan titik kemenangan di salah satu tanah kota jawa bagian timur,
tempat kelahiran saya dulu dan juga tempat saya menumpang bernafas serta
menangis selama tiga bulan.
terimakasih telah membantu menemaniku menikmati Ramadhan dalam kesendirian
kamar kontrakan kecilku, sehingga membuatku merasakan atmosfer Ramadhan yang
berbeda tahun ini, yang insya Allah tidak mengurangi kekhusyuan-ku dalam
aktivitas ibadah Ramadhan-ku tahun ini. Rasanya tidak ingin meninggalkan
Ramadhan ini, namun kehendak waktu telah menggariskan takdirNya.
Jogja...
Akankan usia duniaku sampai pada Ramadhan tahun esok sehingga aku bisa kembali
merasakan atmosfer Ramadhan disini? Entahlah, kita tidak akan bisa mengetahui
segala itu sebelum waktuNya tiba nanti. Dan
pada patahan kata terakhir ini, saya berterimakasih pada tanah Jogja.
Categories
Story
Langganan:
Postingan (Atom)















.jpg)
