Jumat, 01 Agustus 2014

Terimakasih senyumanmu.

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 22.00 0 komentar

"Ketika jarak tidak lagi tak terjangkau kaki, ketika waktu yang tidak lagi membatasi, dan dimensi ruang yang tidak lagi berbeda dan menyekati, maka ketika itu juga mencairlah kerinduan dalam dua jiwa manusia".  

Perjuangan rasa yang dibalas dengan pertemuan, perjalanan, senda gurau dan tukar cerita selama beberapa jam telah mampu membantu meleburkan kerinduan ini. Saya bersyukur berkat waktuNya telah membuat jarak itu menjadi terasa dekat. Saya berterimakasih berkat senyumannya yang telah ikut serta membantu meleburkan kerinduan dan menemani di sepanjang pertemuan dan perjalanan hari ini. Saya terkesan karena tanpa sadar kita saling melempar senyum tanpa henti. Selanjutnya kita akan kembali berkerjasama dalam pertarungan menghadapi pilunya menahan rindu karena jarak yang menyekati berkilo-kilometer. 

Saya tulis ini untuk mengabadikan senyuman kita, dan kelak ini akan menjadi bagian cerita indah untuk masa depan bersama. Terimakasih, senyumanmu :)


Tanah Cikarang, 01 Agustus 2014 @ 14.30 wib

Kamis, 31 Juli 2014

Rumah, saya pulang.

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 22.00 0 komentar

Hi. 
Assalamu’alaykum blog, majikanmu telah datang kembali menjamahmu lewat ocehan ceritanya. 
Sebulan belakangan ini saya telah menempuh perjalanan jauh berkilo-kilometer yang sangat mengesankan dalam sejarah perjalanan hidup. Bagaimana tidak, setelah merasa kenyang mengalami suasana Ramadhan didalam tanah Jogjakarta, lalu saya menyambangi tanah jawa berikutnya di bagian timur tepatnya di Madiun, kota kelahiran. Ditanah jawa bagian timur sana, saya menikmati atmosfer suasana Idul Fitri yang cukup mengesankan. Ini memang bukan kali pertama, tapi rasanya seperti pertama kali merasakan suasana Idul Fitri ditanah jawa bagian timur ini. Meskipun Ramadhan tahun ini diberikan banyak sekali kejutan, dari-yang tidak bisa merasakan puasa pertama ditanah Jogjakarta, lalu dipenghujung Idul Fitri-tidak bisa juga melaksanakan sholat eid ditanah jawa bagian timur ini. Ah memang RamadhanMu tahun ini penuh kejutan yang luar biasa. Saya bersyukur dan sungguh menikmati.


Perjalanan belum berakhir. Selang tiga hari setelah Idul Fitri, saya kembali melakukan perjalanan menuju kota ditanah jawa bagian barat. Singkatnya, saya pulang kehabitat dimana saya dan keluarga saya bertahan hidup, akhirnya menuju Rumah. 

Rumah, saya pulang.


Dulu pernah saya membaca sebuah quote yang kurang lebih berbunyi begini : "....rumah merupakan tempatmu untuk kembali". Quote yang memang singkat, karena hanya demikian yang saya ingat. Namun tersirat makna yang hebat. 
Bahwa sekuat apapun godaan keindahan tempat yang sekarang menjadi persinggahan hidup, disaat waktu memutuskan untuk pulang, rumah-lah yang menjadi tempat untuk kembali pada persinggahan hidup yang sebenarnya dan menjadi penghangat untuk merehatkan lelah. Begitupun juga pada saya yang telah jatuh cinta pada tanah jogja sejak dulu dan sekarang berhasil tinggal disana untuk menyelesaikan masa studi saya, namun saya tetap memilih bahwa rumah adalah tempat ternyaman untuk saya kembali.

Pada liburan semester yang singkat ini, saya berencana akan memberikan waktu yang terbaik untuk rumah. Setidaknya selama berada dirumah, saya bisa kembali menikmati pekerjaan membersihkan lantai-lantai dalam rumah saya. Penghargaan yang sederhana untuk rumah saya atas kerinduan selama enam bulan lebih meninggalkan rumah dan hanya dibayar dengan waktu selama seminggu lebih setengah hari. Waktu yang singkat. Namun, semoga Maha pemilik waktu tidak dulu menyingkatkan waktu dunia saya, agar saya masih bisa untuk kembali pulang menikmati rumah dan berkata "Rumah, saya pulang".

Rabu, 23 Juli 2014

Selfie Time

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 21.00 0 komentar
(Temu kangen yang berujung pada selfie with Ibnu Rahman Mulmuflihun at tanah Jogja)

Terimakasih pada tanah Jogja

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 20.30 0 komentar

Salam hangat rasa kangen terkhusus untukmu, blog usang penuh mimpi kesayanganku. Bersyukur majikanmu ini masih diberikan waktu dan nafasNya untuk kembali bisa menjamahmu. Sudah berapa lama kita tidak bersua, blog? Ah lama sekali ya, berikanlah ampun untuk majikanmu yang malas menulis ini .

Malam hari ini adalah malam terakhir di bulan Juli. 
Waktu telah berhasil memakan habis bulan Juli hingga tersisa akhir ini untuk dinikmati. Seperti halnya dengan Ramadhan ini, yang kian habis dimakan oleh waktu dan akan menemui titik kemenangan, namun itu merupakan awal kepergiannya.

Genap sudah saya menghabiskan Ramadhan ditanah Jogja tercinta. Kemudian berencana untuk bersua dengan titik kemenangan di salah satu tanah kota jawa bagian timur, tempat kelahiran saya dulu dan juga tempat saya menumpang bernafas serta menangis selama tiga bulan.

Jogja...
terimakasih telah membantu menemaniku menikmati Ramadhan dalam kesendirian kamar kontrakan kecilku, sehingga membuatku merasakan atmosfer Ramadhan yang berbeda tahun ini, yang insya Allah tidak mengurangi kekhusyuan-ku dalam aktivitas ibadah Ramadhan-ku tahun ini. Rasanya tidak ingin meninggalkan Ramadhan ini, namun kehendak waktu telah menggariskan takdirNya.

Jogja...
Akankan usia duniaku sampai pada Ramadhan tahun esok sehingga aku bisa kembali merasakan atmosfer Ramadhan disini? Entahlah, kita tidak akan bisa mengetahui segala itu sebelum waktuNya tiba nanti. Dan pada patahan kata terakhir ini, saya berterimakasih pada tanah Jogja.

Selasa, 03 Juni 2014

H-27 Ramadhan

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 17.30 0 komentar
Alhamdulillah.
Sangat mengucap syukur hari ini masih bisa mendapatkan nikmat sehat yang penuh, meskipun sudah tiga hari saya tidak tidur malam. But anyway, saya tidak bermaksud ingin menuliskan sebab-sebab kenapa saya tidak tidur malam.
Hari ini waktu telah memasuki bulan Juni. Waktu terasa tergerogoti begitu cepat sehingga tak terasa sekarang saya sudah menginjak pada pertengahan tahun 2014. Masya Allah.

Pada bulan pertengahan tahun ini pun akan mengantarkan kita semua umat muslim untuk menyambut datangnya bulan yang amat sangat dirindukan. Apa itu? Iya, bulan Ramadhan. Dimana kita semua akan menunaikan kewajiban kita sebagai umat islam nan muslim untuk melakukan ibadah puasa selama 30 hari penuh. Dan sekarang tepat H-27 Ramadhan. Masya Allah, semakin dekat. Saya pribadi sudah tidak sabar untuk menikmati bulan penuh kemulian itu.

Bersama atmosfer kota Yogyakarta akan menemani saya untuk menikmati bulan Ramadhan nanti. Sudah dapat diperkirakan bahwa pada saat puasa pertama saya akan mengalaminya dikota Yogyakarta, nasib nelangsa anak perantauan. Namun saya menikmatinya, bersama Yogyakarta saya menikmati semua yang akan terjadi dalam hidup saya. Walaupun disisi lain, saya juga sedih karena untuk sementara tidak bisa menikmati hari-hari puasa nanti bersama kedua orang tua.

H-27 Ramadhan.
Saya siap menyambut bulan penuh kemuliaan itu. Tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang, sampaikah usia dunia saya untuk bisa menikmati keindahan romantisme Ramadhan hingga pada titik akhir Ramdhan nanti ? 
Sebagai manusia kita tidak akan pernah tahu batas usia dunia. Tetapi yang saya tahu, saya berkewajiban melaksanakan ibadah pada bulan kemuliaan itu. Semoga Allah meridhoi usia panjang saya untuk sampai pada titik awal Ramadhan hingga titik akhir Ramadhan. 

Ahlan wa sahlan Ramadhanku~

Senin, 02 Juni 2014

Quotes of novel "Kau, Aku dan Sepucuk Angpao Merah ― Tere Liye"

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 18.00 0 komentar
“Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti. Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong. Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan. Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gilau kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita bersarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu.
Perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan. Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat, hebat sekali benda bernama perasaan itu, dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang. Urusan perasaan itu ajaib sekali, bahkan bisa membuat merasa sepi di tengah keramaian, ramai di tengah kesepian.
Ketika situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, jangan pernah merusak diri sendiri... terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan. Dan, jika dia memutuskan untuk pergi menjauh, itu berarti sudah saatnya kau memulai kesempatan baru. Percayalah, jika dia memang cinta sejati kau, mau semenyakitkan apa pun, mau seberapa sulit liku yang harus dilalui, dia tetap akan bersama kau kelak, suatu saat nanti. Langit selalu punya skenario terbaik. Saat itu belum terjadi, bersabarlah. Isi hari-hari dengan kesempatan baru. Lanjutkan hidup dengan segenap perasaan riang. Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirudung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. 
Tidak ada kesalahan, kekeliruan, apalagi dosa dalam sebuah perasaan, bukan?"

Minggu, 01 Juni 2014

Quotes of novel 'Sunset Bersama Rosie - Tere Liye'

Diposting oleh Achelia Afiyanti di 06.00 0 komentar
"Ada banyak cara menikmati sepotong kehidupan saat kalian sedang tertikam belati sedih. Salah satunya dengan menerjemahkan banyak hal yang menghiasi dunia dengan cara tak lazim. Saat melihat gumpalan awan di angkasa. saat menyimak wajah-wajah lelah pulang kerja. Saat menyimak tampias air yang membuat bekas di langit-langit kamar. Dengan pemahaman secara berbeda maka kalian akan merasakan sesuatu yang berbeda pula. memberikan kebahagiaan utuh -yang jarang disadari- atas makna detik demi detik kehidupan."

“Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita menjadi jauh lebih ringan. Ketahuilah, memaafkan orang lain sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri.” 

“Tak Peduli seberapa membahagiakan atau menyedihkan, hidup harus terus berlanjut. Waktulah yang selalu menepati janji dan berbaik hati mengobati segalanya.” 


 

Regnum Imaginaria Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei